Di Negara Ini, Anak Diajarkan "Rasa Malu" Jika Menyerobot Antrean, Bagaimana dengan Indonesia?

1 Maret 2016

Bagaimana rasanya jika kita sedang mengantre tiba-tiba ada orang yang menyerobot antrean tanpa permisi atau karena alasan keadaan darurat? Di Indonesia, rasanya masih banyak orang yang dengan mudahnya menyerobot antrean tanpa rasa malu atau bahkan meminta maaf karena telah menyerobot antrean.

Source: japanistas.com

Coba kita bayangkan bila seandainya para kasir atau petugas di stasiun, bandara, dan tempat lainnya dilatih untuk meminta para konsumen atau penumpangnya mengantre dan menegur orang yang menyerobot antrean seperti halnya di Jepang, Singapura, maupun Australia. Mungkin sedikit demi sedikit para orangtua menjadi sadar untuk mengantre dan anak-anaknya juga akan meniru untuk sabar mengantre.

Di Jepang, Anak Belajar Memiliki "Rasa Malu" Saat Menyerobot Antrean

Siapa yang tak kenal dengan negeri Sakura? Jepang, negara yang terkenal dengan berbagai budayanya termasuk budaya antre. Masyarakat Jepang selalu melakukan hal ini di manapun, tidak pernah terjadi keributan ketika harus antre di negara ini.

Source: digitaljournal.com

Di Jepang, masyarakatnya bisa mengantre dengan rapi tanpa ada petugas yang mengatur. Apabila ada seseorang yang tidak sesuai aturan umum dalam masyarakat Jepang atau menyerobot antrean, maka orang tersebut akan dianggap orang yang aneh "Hen Na Hito".

Tahukah Anda?

"Di Jepang, menyerobot antrean dapat digolongkan sebagai tindakan kriminal. Hukuman karena menyerobot antrean sama beratnya dengan meludah di taman. Seseorang dapat dituntut dengan hukuman membayar denda antara 1000 hingga 10.000 Yen atau setara dengan Rp 100.000 hingga       Rp 1.000.000 dan dipenjara selama 30 hari."

Menakjubkannya lagi, di sekolah skala taman kanak-kanak, budaya antre sudah dimasukkan ke dalam kurikulum. Seperti pembelajaran di TK Musashino Jyoshi Gakuen, hampir 90 persen tema belajarnya adalah "daily routine", yaitu aktivitas sehari-hari yang dialami dan pasti dilakukan oleh anak-anak.

Setiap hari anak-anak diajarkan cara mengantre yang benar. Mulai masuk ke dalam kelas, mengantre makanan di kantin, hingga mengantre di toilet. Aplikasi sehari-harinya, saat berangkat sekolah bersama orangtua-nya, mereka juga harus sabar mengantre masuk kereta dan mengantre untuk menyeberang jalan. Contoh lainnya, saat selesai istirahat dan bel berbunyi, tanpa diarahkan, mereka berbaris antre masuk ke dalam kelas.

Bahkan sedari dini, anak-anak ditanamkan etika menghormati hak orang lain. Dengan sendirinya, mereka akan belajar memiliki rasa malu jika mengambil hak orang lain atau menyerobot antrean. Maka

tak heran jika penanaman budaya antre pada anak-anak akan melekat hingga dewasa.

Mengapa mengantre itu menjadi penting?

Selain belajar memiliki rasa malu jika menyerobot antrean, tanpa kita sadari, ada banyak sekali pelajaran berharga dibalik mengajarkan budaya antre pada anak-anak, di antaranya:

  1. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya, sehingga ia pun bisa belajar mengendalikan emosi dan keinginannya hingga tiba gilirannya.
  2. Anak belajar manajemen waktu. Agar mendapatkan antrean paling depan, artinya anak-anak harus datang lebih awal. Mereka pun akan mengatur waktunya sebaik mungkin, misalnya tidur lebih awal agar bisa bangun pagi, mandi tidak lama-lama, agar tidak mendapatkan antrean paling belakang.
  3. Anak belajar menghormati hak orang lain. Anak menjadi paham, mereka yang datang lebih awal berhak mendapat giliran lebih dulu sehingga tidak semena-mena mengambil hak orang lain.
  4. Anak belajar hukum sebab akibat. Anak yang datang terlambat, ia harus menerima konsekuensi mendapat giliran antre paling belakang. Dari situlah, ia akan belajar manajemen waktu yang lebih baik.
  5. Anak belajar disiplin. Mulai dari mengatur waktu hingga tertib saat mengantre. Tidak perlu mendorong-dorong bahkan berdesakan, sebab setiap orang pasti akan mendapatkan gilirannya.
  6. Anak belajar bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain dalam antrean. Mereka juga bisa bekerja sama dengan orang yang ada di dekatnya jika ia harus keluar antrean sebentar untuk ke kamar mandi.
  7. Anak menjadi lebih kreatif. Ia akan mencari cara untuk mengatasi kebosanan saat mengantre, misalnya dengan membaca buku, menghafal pelajaran, mendengarkan musik, atau bermain game.
  8. Anak belajar berani menegur jika ada orang yang mencoba menyerobot antreannya atau antrean orang lain.

Bagaimana dengan budaya antre di Indonesia?

Mirisnya, budaya antre di kita sangat jauh berbeda dengan di Jepang. Baik di sekolah, stasiun, halte bus, minimarket atau tempat umum lainnya, kita masih sering menemukan orang yang menyerobot antrean, entah karena alasan buru-buru, kenal dengan petugasnya jadi didahulukan, atau karena seseorang tersebut memiliki jabatan tinggi. Sedikit juga masyarakat kita yang berani menegur orang yang menyerobot antrean.

Bila hal tersebut terus terjadi, bagaimana bisa kita mengajarkan budaya antre pada anak-anak?

“Anak-anak tidak pernah baik dalam mendengarkan orang yang lebih tua. Namun anak-anak tidak pernah gagal dalam meniru orang yang lebih tua.”

- James Baldwin

Sejatinya, anak-anak sudah mulai perlu kita ajarkan mengantre ketika mereka sudah mulai bisa berjalan dan berinteraksi dengan orang lain. Berikut beberapa cara mengajarkan mengantre pada si kecil:

1. Mengajak anak ke tempat umum, lalu mencontohkan bagaimana mengantre yang benar

Untuk menanamkan etika moral, sudah pasti tidak cukup sekali lalu jadi. Kita harus mencontohkannya sesering mungkin. Perlu kita ingat, bahwa cara belajar yang sering diterapkan anak-anak adalah observasi dan imitasi. Mereka melihat apa yang kita lakukan lalu meniru.

Kita dapat melihat cara TK di Jepang saat mengajarkan anak disiplin dan mengantre. Seperti antre ketika masuk ke kamar mandi, antre saat menaiki angkutan umum, dll. Cara ini terus dipraktekkan setiap harinya hingga anak berusia sekitar 12 tahun atau sampai anak paham manfaat di balik mengantre.

2. Ajak anak terlibat langsung untuk mengantre

Cara ini dapat terapkan untuk anak berusia di atas lima tahun. Misalnya, kita bisa meminta dia untuk membayar sesuatu di minimarket dengan cara mengantre. Ketika tugas tersebut bisa mereka jalankan dengan baik, tidak ada salahnya kita memberikan pujian untuk si kecil.

3. Berikan pengarahan, teguran, atau peringatan ketika pelanggaran terjadi

Yang terpenting dari mengajarkan anak mengantre adalah menyampaikan nilai-nilai yang ada dibalik budaya mengantre itu. Tentu dalam proses penanaman nilai pada anak-anak itu tidak cukup dengan memberi contoh dan praktek. Kita juga membutuhkan penegakan (dalam arti pengarahan, teguran, atau peringatan) ketika pelanggaran terjadi, misalnya dia menyerobot antrean. Beritahu anak bahwa hal tersebut merupakan tindakan tidak sopan karena bisa merugikan orang lain. 

*             *             *

Intinya, selain pendidikan di rumah, sekolah juga sebenarnya perlu menanamkan budaya antre dalam kurikulumnya. Sebab pada kenyataannya, penanaman etika moral tak kalah penting dari sekadar pintar secara akademis.

Ada satu hal yang perlu kita pahami, ketika kita berhasil mengajarkan budaya mengantre, sebetulnya bukan saja mengajarkan teknik mengantre, namun juga sudah mengajarkan cara berpikir atau cara hidup yang menghormati orang lain, menghargai waktu, dan latihan bersabar. Setuju, sobat pro safety?

Semoga Bermanfaat, Salam Safety!

By Copywriter PT Safety Sign Indonesia

Sumber: www.SafetySign.co.id




Baca juga
9 Juli 2015
Lemas Bekerja Saat Puasa? Hindari 5 Makanan Ini Saat Sahur!
Bekerja saat puasa, tubuh membutuhkan energi lebih agar Anda tidak mudah merasa lemas atau mengantuk. Maka dari itu, Anda harus mengubah beberapa kebiasaan agar tetap produktif saat bekerja di bulan puasa. Salah satunya dengan menghindari kebiasaan mengonsumsi beberapa makanan pemicu kelelahan berlebih, di antaranya

1 Juni 2015
Berhenti Bekerja Jika Tidak Mau Terserang Penyakit Ini!
Segera berhenti bekerja atau Anda jadi korban selanjutnya! Saat ini, kasus pekerja yang menderita alergi akibat lingkungan kerja terus meningkat. Secara global, asma menjadi reaksi alergi terbanyak di lingkungan pekerja.

27 Mei 2015
Selamat! Fadeli Kembali Raih Penghargaan K3
Lagi, Bupati Lamongan, H Fadeli kembali memperoleh penghargaan sebagai pembina terbaik dalam Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3). Penghargaan tingkat Jawa Timur itu diserahkan langsung oleh Gubernur Jatim, Soekarwo Negara Grahadi Surabaya, Rabu (22/4) lalu.

26 Mei 2015
Kecelakaan Kerja Hulu Migas di Indonesia Masih Tinggi, Kenapa?
Angka kecelakaan kerja pada kegiatan hulu migas di sepanjang 2014 mencapai 159 kejadian. Di tahun sebelumnya, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat angka kecelakaan kerja mencapai 183.

25 Mei 2015
Bekerja Sambil Berdiri, Ini Dia Risikonya!
Beberapa pekerjaan, seperti pekerja pabrik atau teknisi mengharuskan seseorang berdiri hingga berjam-jam. Kondisi ini ternyata bisa menimbulkan beberapa efek terhadap kesehatan.

Pembayaran

  • BCA
  • No. Rek 777 – 0876553
    An. PT SAFETY SIGN INDONESIA

Tentang Kami

PT Safety Sign Indonesia 

Ruko Maple Kav E
Jl. Raya Gunung Batu No. 201
Bandung 40175
Jawa Barat - Indonesia

  • Phone 1 : 022 8606 5300 
  • Phone 2 : 022 601-0505
  • Mobile 1 : 0817 215 215
  • Mobile 2 : 0811 2257 997
  • Fax       : 022 2003 684 
  • Email    : [email protected]

fb icon Linkedin

© Safety Sign Indonesia. All Rights Reserved.